Setelah kita mengetahui adanya sejarah tentang kura-kura belawa ternyata ada juga tentang kisah mitos tentang kura-kura belawa ini. Dan warga setempat pun sangat menyetujui hal itu dikarenakan warga setempat masih bingung dengan adanya kura-kura belawa itu. Adanya kura-kura yang bertempurung khas ini juga menumbuhkan cerita rakyat setempat dan menimbulkan dongengan-dongengan yang turun temurun agar generasi penerus bisa memahami dan menghargai peninggalan sejarah. Dan cerita mitos ini salah satunya adalah kura-kura yang ada di Desa Belawa.
Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang bernama “Jaka Saliwah” Jaka berarti lelaki/ Pemuda sedangkan Saliwah berarti tidak sama (tidak satu warna ). Wajah Jaka Saliwah terdiri dari warna putih dan hitam sebelah berwarna putih dan sebelahnya lagi berwarna hitam. Kura-kura Belawa di Cirebon dikeramatkan warga setempat. Sebuah mitos pun berselimut pada hewan langka ini.
Ketika saya dan teman-teman saya menjelajahi di lokasi obyek wisata Cikuya Kura-kura Belawa, banyak yang mengatakan bahwa kisah mistis yang melekat pada kura-kura Belawa berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Cirebon yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi. Kala itu Syekh Datuk Kahfi menerima seorang santri bernama Jaka Saliwah yang wajahnya memiliki dua warna, hitam dan putih. Jaka Saliwah diperintah untuk berzikir di atas batu Pasujudan yang berada di samping Sumur Pamuyuran di Cikuya, yang saat ini menjadi objek wisata kura-kura Belawa.
Awalnya mucul dari penyebaran agama hingga muncul kisah adanya kura-kura putih di sumur pamuruyan tersebut. Ada pula mitos lainnya yang katanya menceritakan hal yang berbeda, bahwa yang dibuang bukanlah kitab suci Al-Quran, melainkan kitab ilmu kanuragan berupa ilmu pamuruyann, pengasihan, dan pamulyaan yang mengajarkan segala kebaikan untuk dibagikan kepada seluruh umat manusia, habluminannas (hubungan sesame manusia), dan habluminallah (hubungan dengan Tuhan). Berubahnya kitab sebagai kura-kura dianggap sebagai sebuah simbol bahwa untuk mendapatkan suatu hal yang diinginkan, maka seseorang harus yakin dan sabar untuk berusaha dan menunggu hal itu tiba, sama seperti kura-kura yang mencerminkan sifat yang serupa.
Setelah saya telusuri lebih lanjut adanya mitos tersebut memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan kura-kura Belawa. Dengan kura-kura yang dikeramatkan, maka tak ada orang yang memperjual-belikan apalagi memakannya.
Dilihat dari sisi mistis tersebut, menurut saya banyak warga yang mempercayai adanya kisah mitos tersebut sehingga warga setempatpun mengambil sisi positifnya dengan adanya kisah kura-kura di sini bisa terjaga hinga sekarang Dan saat ini kura-kura Belawa jumlahnya sekitar 400 ekor. bersyukur kura-kura Belawa masih bisa diselamatkan dan upaya konservasi pun terus berlanjut.
Selain mitos munculnya kura-kura berasal dari penyebaran agama ternyata ada juga yang bilang bahwa munculnya kura-kura belawa pada dasarnya adalah jelmaan dari seorang kyai. Cerita bermula dari datangnya dua orang kyai ke Desa Belawa, yang akhirnya memutuskan untuk membangun pesantren. Namun kedua kyai ini kemudian berselisih mengenai siapakah yang akan menjadi pemimpin pesantren tersebut. Salah satu kyai yang kalah kemudian meninggalkan desa. Tahun demi tahun berlalu, kyai yang kalah mengirimkan putranya untuk menyadarkan pemimpin pesantren Belawa yang merupakan sahabatnya dulu. Tersadar akan sifatnya yang takabur saat mengalahkan sahabatnya, sang kyai tersebut menghilang begitu saja. Kemudian secara tiba-tiba dari mata air muncul seekor kura-kura putih yang dipercaya sebaga
i penjelmaan dari sang pemimpin pesantren. Hingga kini dipercaya bahwa seseorang dengan jiwa yang bersih dapat melihat kura-kura putih tersebut mengapung diatas air pamuruyan.
0 komentar:
Posting Komentar