Obyek wisata
yang terdapat di kota Cirebon Desa Belawa Kecamatan Lemah Abang ini memiliki
daya tarik wisatawan. Ciri khusus yang dimiliki obyek wisata ini dari kura-kura
yang mempunyai punggung cekung, warna batok atau tengkorangnya berbeda dengan kura-kura
biasanya dan ukuran berat badannya bisa mencapai 20-80 kg/ekor. Kura-kura ini
hidup di daerah perairan tawar terutama di pegunungan. Kura-kura Belawa
termasuk hewan yang dilindungi oleh masyarakat setempat dan juga di lindungi
oleh suatu mitos, hewan tersebut tidak dapat dibawa keluar dari Desa Belawa.
Apabila ada yang mencoba membawanya maka orang yang bersangkutan akan mendapat
musibah. Perkembangbiakannya sama dengan kura-kura lainnya yaitu bertelur.
Masyarakat setempat memelihara kura-kura tersebut dengan diberi pakan berupa
ayam,ikan asin, dan singkong.
Selain
itu di Cikuya terdapat Sumur Pamuyuran yang berarti tempat muruy, atau tempat
untuk keperluan cuci muka. Setelah datangnya Agama Islam, sumur itu
dipergunakan untuk mengambil air Wudhu dimana airnya dipercaya dapat
mempermudah mendapatkan jodoh atau keperluan lainnya ( Wallahualam ). Disana juga
terdapat batu yang tidak boleh di injak, sebenarnya batu tersebut hanyalah
sebuah cadas. Letak batu cadas di Cikuya itu ada disebelah Sumur Pamuruyan
dengan arah menghadap kiblat.
Kura-kura
yang mempunyai tempurung khas itu menimbulkan cerita dan dongeng yang turun
temurun, ceritanya pun berbeda-beda agar generasi muda bisa memahami dan
menghargai hal yang merupakan peninggalan sejarah.
Pada
zaman dahulu ada seorang anak yang bernama “Jaka Saliwah” Jaka yang berati
lelaki sedangkan Saliwah berarti tidak sama ( tidak satu warna ). Jaka Saliwa
memiliki 2 warna diwajahnya, warna putih dan sebelahnya lagi berwarna hitam.
Orang tuanya pun hanya bisa berdoa agar diberi ketabahan, kesabaran, dan
keimanan, agar Jaka menjado anak yang berguna untuk nusa dan bangsa,iman dan
takwa kepada Yang Maha Kuasa. Jaka Saliwah adalah anak yang sangat cerdas sejak
kecil dia sudah di didik dan diajarkan Ilmu Agama dan menjadi panutan buat
teman-temannya. Setelah beranjak dewasa Jaka Saliwah merasa rendah diri karena
teman sebayanya selalu mengolok olok diluar batas. Setelah kejadian itu Jaka
Saliwa enggan keluar rumah dan tidak lagi bergaul sama temannya. Jaka Saliwah
hanya bisa mengurung diri tanpa ada sepatah kata pun yang dia lontarkan
walaupun orang tuanya bertanya kepada Jaka namun tak pernah menjawab pertanyaan
dari orang tuanya. Orang tuanya pun merasa bingung dan akhirnya ada warga yang
memberi tahu bahwa ada seorang yang dianggap sakti dan memiliki ilmu yang
tinggi. Beliau dianggap pemuka Agama dan mempunyai banyak santri, beliau
bernama “ Syeh Datuk Putih “. Syeh Datuk Putih mengajarkan Agama Islam kepada
semua penduduk walaupun waktu itu Desa Belawa masih menganut Animisme. Sedikit
demi sedikit Syeh Datuk Putih berhasil menanamkan ajaran-ajaran Islam di Desa
tersebut.
Dengan
keinginan sendiri dan doa dari kedua orang tuanya Jaka Saliwa pun pergi ke Desa
Belawa. Perjalannya pun tidak begitu mudah untuk dilalui, Jaka harus melewati
tebing dan mendaki. Namun semua itu tidak menjadi penghalang buat Jaka. Jaka
terus berjalan dan akhirnya sampai lah di Desa Belawa. Setelah sampai pun
berjabatan dengan Syeh dan santri yang ada disana. Para santri menatap muka
Jaka yang membuatnya sedikit rendah hati, namun ia berusaha tabah dan selalu
percaya diri. Jaka Saliwah pun menceritakan masalah dirinya dari awal sampai
akhir, Jaka meminta kepada Syeh untuk menyembuhkan wajahnya agar sama dengan
yang lainnya. Syeh Datuk Putih menyarankan kepada Jaka membaca Ayat Suci
Al-Qur’an, shalat malam berdzikir dan berpuasa. Jaka selalu menuruti apa yang
diperintahkan Syeh Datuk Putih, namun perubahan warna kulit di wajahnya belum
ada tanda-tanda perubahan. Ia selalu menatap wajahnya di air sumur dekat batu,
ia selalu berdzikir belum membuahkan hasil. Jaka hampir putus asa, Jaka tidak
sadar lembaran Ayat Suci Al-Qur’an ia sobek-sobek dan melemparkannya ke kolam
yang jernih airnya. Jaka melangkahkan kakinya untuk pulang ke Desa nya, tetapi
ia merasa aneh akan kertas yang tadi terapung tidak ada satupun dan yang dia
lihat hanya ada hewan-hewan kecil berenang.
Jaka
Saliwah merasa takjub akan keajaiban, ternyata yang dia lihat berasal dari
sobekan Al-Qur’an. Dan akhirnya hewan tersebut diberi nama “ Kura-Kura “. Jaka
Saliwah berdiri dan melihat wajahnya didalam sumur, ia merasa kaget wajahnya
tidak dua warna lagi. Alhamdulillah kuasa Allah begitu indah, semua doa yang
telah Jaka lontarkan tidak sia-sia.
0 komentar:
Posting Komentar