Sabtu, 12 Januari 2019

Review Objek Wisata Kuya Belawa


Obyek wisata yang terdapat di kota Cirebon Desa Belawa Kecamatan Lemah Abang ini memiliki daya tarik wisatawan. Ciri khusus yang dimiliki obyek wisata ini dari kura-kura yang mempunyai punggung cekung, warna batok atau tengkorangnya berbeda dengan kura-kura biasanya dan ukuran berat badannya bisa mencapai 20-80 kg/ekor. Kura-kura ini hidup di daerah perairan tawar terutama di pegunungan. Kura-kura Belawa termasuk hewan yang dilindungi oleh masyarakat setempat dan juga di lindungi oleh suatu mitos, hewan tersebut tidak dapat dibawa keluar dari Desa Belawa. Apabila ada yang mencoba membawanya maka orang yang bersangkutan akan mendapat musibah. Perkembangbiakannya sama dengan kura-kura lainnya yaitu bertelur. Masyarakat setempat memelihara kura-kura tersebut dengan diberi pakan berupa ayam,ikan asin, dan singkong.
          Selain itu di Cikuya terdapat Sumur Pamuyuran yang berarti tempat muruy, atau tempat untuk keperluan cuci muka. Setelah datangnya Agama Islam, sumur itu dipergunakan untuk mengambil air Wudhu dimana airnya dipercaya dapat mempermudah mendapatkan jodoh atau keperluan lainnya ( Wallahualam ). Disana juga terdapat batu yang tidak boleh di injak, sebenarnya batu tersebut hanyalah sebuah cadas. Letak batu cadas di Cikuya itu ada disebelah Sumur Pamuruyan dengan arah menghadap kiblat.
          Kura-kura yang mempunyai tempurung khas itu menimbulkan cerita dan dongeng yang turun temurun, ceritanya pun berbeda-beda agar generasi muda bisa memahami dan menghargai hal yang merupakan peninggalan sejarah.
          Pada zaman dahulu ada seorang anak yang bernama “Jaka Saliwah” Jaka yang berati lelaki sedangkan Saliwah berarti tidak sama ( tidak satu warna ). Jaka Saliwa memiliki 2 warna diwajahnya, warna putih dan sebelahnya lagi berwarna hitam. Orang tuanya pun hanya bisa berdoa agar diberi ketabahan, kesabaran, dan keimanan, agar Jaka menjado anak yang berguna untuk nusa dan bangsa,iman dan takwa kepada Yang Maha Kuasa. Jaka Saliwah adalah anak yang sangat cerdas sejak kecil dia sudah di didik dan diajarkan Ilmu Agama dan menjadi panutan buat teman-temannya. Setelah beranjak dewasa Jaka Saliwah merasa rendah diri karena teman sebayanya selalu mengolok olok diluar batas. Setelah kejadian itu Jaka Saliwa enggan keluar rumah dan tidak lagi bergaul sama temannya. Jaka Saliwah hanya bisa mengurung diri tanpa ada sepatah kata pun yang dia lontarkan walaupun orang tuanya bertanya kepada Jaka namun tak pernah menjawab pertanyaan dari orang tuanya. Orang tuanya pun merasa bingung dan akhirnya ada warga yang memberi tahu bahwa ada seorang yang dianggap sakti dan memiliki ilmu yang tinggi. Beliau dianggap pemuka Agama dan mempunyai banyak santri, beliau bernama “ Syeh Datuk Putih “. Syeh Datuk Putih mengajarkan Agama Islam kepada semua penduduk walaupun waktu itu Desa Belawa masih menganut Animisme. Sedikit demi sedikit Syeh Datuk Putih berhasil menanamkan ajaran-ajaran Islam di Desa tersebut.
          Dengan keinginan sendiri dan doa dari kedua orang tuanya Jaka Saliwa pun pergi ke Desa Belawa. Perjalannya pun tidak begitu mudah untuk dilalui, Jaka harus melewati tebing dan mendaki. Namun semua itu tidak menjadi penghalang buat Jaka. Jaka terus berjalan dan akhirnya sampai lah di Desa Belawa. Setelah sampai pun berjabatan dengan Syeh dan santri yang ada disana. Para santri menatap muka Jaka yang membuatnya sedikit rendah hati, namun ia berusaha tabah dan selalu percaya diri. Jaka Saliwah pun menceritakan masalah dirinya dari awal sampai akhir, Jaka meminta kepada Syeh untuk menyembuhkan wajahnya agar sama dengan yang lainnya. Syeh Datuk Putih menyarankan kepada Jaka membaca Ayat Suci Al-Qur’an, shalat malam berdzikir dan berpuasa. Jaka selalu menuruti apa yang diperintahkan Syeh Datuk Putih, namun perubahan warna kulit di wajahnya belum ada tanda-tanda perubahan. Ia selalu menatap wajahnya di air sumur dekat batu, ia selalu berdzikir belum membuahkan hasil. Jaka hampir putus asa, Jaka tidak sadar lembaran Ayat Suci Al-Qur’an ia sobek-sobek dan melemparkannya ke kolam yang jernih airnya. Jaka melangkahkan kakinya untuk pulang ke Desa nya, tetapi ia merasa aneh akan kertas yang tadi terapung tidak ada satupun dan yang dia lihat hanya ada hewan-hewan kecil berenang.
          Jaka Saliwah merasa takjub akan keajaiban, ternyata yang dia lihat berasal dari sobekan Al-Qur’an. Dan akhirnya hewan tersebut diberi nama “ Kura-Kura “. Jaka Saliwah berdiri dan melihat wajahnya didalam sumur, ia merasa kaget wajahnya tidak dua warna lagi. Alhamdulillah kuasa Allah begitu indah, semua doa yang telah Jaka lontarkan tidak sia-sia.         

0 komentar:

Posting Komentar