Senin, 28 Januari 2019

Review obyek wisata

 Kura-kura Belawa adalah kura-kura langka yang terdapat di Cirebon, itupun tidak di sembarang tempat. Hanya ada di Desa Belawa, di Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, sekitar 200 kilometer dari kota Cirebon. Kura-kura Belawa termasuk hewan yang dilindungi oleh masyarakat setempat. Selain cerita keramat, keber-adaan Kura-kura Belawa juga dilindungi oleh sebuah mitos, ia tidak dapat dibawa keluar dari Desa Belawa. Apabila ada yang mencoba membawa keluar kura-kura itu, maka orang yang bersangkutan akan mendapat musibah.
  Habitat kura-kura Belawa yaitu di darat dan di air. Untuk sehari-hari hidup di air, sedangkan untuk perkembangbiakannya yaitu bertelur di darat.
Kura-kura ini lebih senang hidup di air yang berlumpur, terkadang hanya berendam di dalam lumpur sepanjang harinya.

Masyarakat memelihara kura-kura tersebut dengan diberi pakan berupa ayam, ikan asin dan singkong.
  Kura-kura ini dalam perkembangbiakannya hampir sama dengan kura-kura lainnya yaitu melalui telur. Telur dari kura-kura tersebut pada saat ini diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar daerah ter-sebut, oleh karenanya perlu dibuatkan suatu tempat yang memadai untuk kelangsungan hidupnya oleh pihak yang berwenang untuk menjaga kelestariannya. Hingga saat ini kura-kura tersebut terjaga dari kepunahan, karena didasarkan oleh masyarakat tabu untuk mengambil daging kura-kura dari tempatnya. Pada masa yang akan datang perlu dibuatkan habitat yang sesuai agar jenis satwa tersebut terhindar dari kepunahan.

Lokasi wisata ini berjarak kira-kira 12 km dari kota Cirebon ke arah timur menuju Sindanglaut. Obyek wisata ini memiliki daya tarik dari kura-kura yang mempunyai ciri khusus di punggung yang cekung dengan nama latin " Aquatic Tortose Ortilia norneensis."
Menyimpan legenda menarik tentang keberadaannya di desa belawa kecamatan Lemahabang. Menurut penelitian merupakan spesies kura-kura yang langka dan patut di lindungi keberadaannya.
Selain dari itu di obyek wisata cikuya terdapat Sumur Pamuruyan di dalam basa sunda Buhun muruy berarti melihat bayangan diri terutama wajah basa sunda ngeunteung (ngaca) .
Pamuruyan berarti tempat muruy, melihat muka disamping keperluan cuci muka (sibeungeut) dsb. Setelah datang agama islam dipergunakan untuk mengambil air Wudlu dimana airnya dipercaya dapat mempermudah mendapatkan jodoh atau keperluan lainnya (benar tidaknya Wallahu alam bisawab)
Batu Yang Tak Boleh Di injak Sebenarnya bukan batu yang keras tapi cadas yang bisa aus dimakan waktu. Mungkin dahulunya datar dan agak lebar dipakai untuk sholat ma’mum .
Umumnya orang awam menggangap batu itu angker , siapa yang menginjak akan sakit , akan mendapat celaka dsb. Pada waktu sholat para alim ulama mengatakan bahwa dalam Takbiratul Ikhram Allah Akbar jiwa kita kita harus Mi’raz menghadap Illlahi sesuai dengan perintah Allah Subhanahu Wataala sholat Lima waktu . Diriwayatkan ketika Mi’raz dari masjidil Aqsa naik kelangit dihalamannya sada batu, batu itu merupakan landasan tangga dari langit yang disebut Suullam Jannah. Setelah Mi’raz Nabi Muhammad SAW batu tidak pernah (tidak Boleh) diinjak oleh manusia. Jadi batu cadas di Cikuya mengingatkan kita pada batu yang ada di mesjid Aqsa di Palestina. Letak batu di Cikuya itu ada di sebelah selatan sumur pamuruyan dengan arah menghadap kiblat.Pada jaman Orde Baru Kepala Desa Suara (Alm) batu itu dikubur (letak yang sekarang ) dan pada waktu kepala desa Pak Djuhud tanah yang menutupi digali sehingga dapat dilihat.

0 komentar:

Posting Komentar