Kura-kura Belawa adalah kura-kura langka yang terdapat di Cirebon,
itupun tidak di sembarang tempat. Hanya ada di Desa Belawa, di Kecamatan
Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, sekitar 200 kilometer dari kota
Cirebon. Kura-kura Belawa termasuk hewan yang dilindungi oleh masyarakat
setempat. Selain cerita keramat, keber-adaan Kura-kura Belawa juga
dilindungi oleh sebuah mitos, ia tidak dapat dibawa keluar dari Desa
Belawa. Apabila ada yang mencoba membawa keluar kura-kura itu, maka
orang yang bersangkutan akan mendapat musibah.
Habitat kura-kura Belawa yaitu di darat dan di air. Untuk sehari-hari
hidup di air, sedangkan untuk perkembangbiakannya yaitu bertelur di
darat.
Kura-kura ini lebih senang hidup di air yang berlumpur, terkadang hanya berendam di dalam lumpur sepanjang harinya.
Masyarakat memelihara kura-kura tersebut dengan diberi pakan berupa ayam, ikan asin dan singkong.
Kura-kura ini dalam perkembangbiakannya hampir sama dengan kura-kura
lainnya yaitu melalui telur. Telur dari kura-kura tersebut pada saat ini
diperjualbelikan oleh masyarakat sekitar daerah ter-sebut, oleh
karenanya perlu dibuatkan suatu tempat yang memadai untuk kelangsungan
hidupnya oleh pihak yang berwenang untuk menjaga kelestariannya. Hingga
saat ini kura-kura tersebut terjaga dari kepunahan, karena didasarkan
oleh masyarakat tabu untuk mengambil daging kura-kura dari tempatnya.
Pada masa yang akan datang perlu dibuatkan habitat yang sesuai agar
jenis satwa tersebut terhindar dari kepunahan.
Lokasi wisata ini berjarak kira-kira 12 km dari kota Cirebon ke arah
timur menuju Sindanglaut. Obyek wisata ini memiliki daya tarik dari
kura-kura yang mempunyai ciri khusus di punggung yang cekung dengan nama
latin " Aquatic Tortose Ortilia norneensis."
Menyimpan legenda menarik tentang keberadaannya di desa belawa kecamatan
Lemahabang. Menurut penelitian merupakan spesies kura-kura yang langka
dan patut di lindungi keberadaannya.
Selain dari itu di obyek wisata cikuya terdapat Sumur Pamuruyan di dalam
basa sunda Buhun muruy berarti melihat bayangan diri terutama wajah
basa sunda ngeunteung (ngaca) .
Pamuruyan berarti tempat muruy, melihat
muka disamping keperluan cuci muka (sibeungeut) dsb. Setelah datang
agama islam dipergunakan untuk mengambil air Wudlu dimana airnya
dipercaya dapat mempermudah mendapatkan jodoh atau keperluan lainnya
(benar tidaknya Wallahu alam bisawab)
Batu Yang Tak Boleh Di injak Sebenarnya bukan batu yang keras tapi cadas
yang bisa aus dimakan waktu. Mungkin dahulunya datar dan agak lebar
dipakai untuk sholat ma’mum .
Umumnya orang awam menggangap batu itu
angker , siapa yang menginjak akan sakit , akan mendapat celaka dsb.
Pada waktu sholat para alim ulama mengatakan bahwa dalam Takbiratul
Ikhram Allah Akbar jiwa kita kita harus Mi’raz menghadap Illlahi sesuai
dengan perintah Allah Subhanahu Wataala sholat Lima waktu . Diriwayatkan
ketika Mi’raz dari masjidil Aqsa naik kelangit dihalamannya sada batu,
batu itu merupakan landasan tangga dari langit yang disebut Suullam
Jannah. Setelah Mi’raz Nabi Muhammad SAW batu tidak pernah (tidak Boleh)
diinjak oleh manusia. Jadi batu cadas di Cikuya mengingatkan kita pada
batu yang ada di mesjid Aqsa di Palestina. Letak batu di Cikuya itu ada
di sebelah selatan sumur pamuruyan dengan arah menghadap kiblat.Pada
jaman Orde Baru Kepala Desa Suara (Alm) batu itu dikubur (letak yang
sekarang ) dan pada waktu kepala desa Pak Djuhud tanah yang menutupi
digali sehingga dapat dilihat.
Senin, 28 Januari 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar