Adanya kura-kura yang bertempurung khas ini juga menumbuhkan cerita
rakyat setempat dan menimbulkan dongengan-dongengan yang turun temurun
agar generasi penerus bisa memahami dan menghargai hal hal yang
merupakan peninggalan sejarah yang tidak baik kalau kita abaikan begitu
saja.
Peninggalan leluhur kita patut kita hargai dan hormati agar kekayaan peninggalan itu tetap lestari sampai akhir zaman
Dan cerita mitos ini salah satunya adalah kura-kura yang ada di Desa Belawa.
Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang bernama “Jaka Saliwah” Jaka
berarti lelaki/ Pemuda sedangkan Saliwah berarti tidak sama (tidak satu
warna ).
Wajah Jaka Saliwah terdiri dari warna putih dan hitam sebelah berwarna putih dan sebelahnya lagi berwarna hitam.
Allah telah mentakdirkan semenjak lahir Jaka berwajah dua rupa.
Betapa sedih dan pilu orang tuanya menerima kenyataan ini, namun Tuhan
telah menghendakinya orang tua Jaka hanya bias berdo’a mudah-mudahan
diberi ketabahan, kesabaran dan keimanan.
Juga do’a untuk bayinya mudah-mudahan menjadi anak yang sholeh berbakti
kepada orang tua,berguna untuk nusa dan bangsa Iman dan Takwa kepada
yang Kuasa.
Jaka Saliwah tergolong anak yang cerdas semenjak kecil ia sudah di didik
ilmu agama giat bekerja dan menjadi suri tauladan teman-teman
sebayanya.
Ketidak samaan warna muka tidak menjadi penghalang dan renda diri tetapi Jaka Saliwah selalu ceria..
Usia makin dewasa mulailah Jaka Saliwah merassa rendah diri apalagi
kalau ada teman sebayanya memperolok-olok, kata cemoohandan kadang
mereka diluar batas kesopanan.
Lama-lama ia merasa didsisihkan, dia menjadi anak yang murung. Ia
sering menyendiri di dalam kamar. Wajah yang semula cerria kini mulai
selalu murung/
Enggang bergaul dengan teman-temanya . Ia jarang keluar rumah lebih baik mengurung diri, itulah pekerjaan Jaka Saliwah saat itu.
Kedua orang tuanya selalu membesarkan hati sang anak,namun Jaka saliwah
selalu membisu seribu basa. Tak pernah memberi jawaban apa yang ia
pikirkan
Kedua orang tua selalu kebingungan ihtiar apa yang harus dilakukan,
mereka mencari orang yang mengerti dan bisa menunjukan kemana mereka
harus meneima saran dan pendapat.
Akhirnya ada seorang yang mengatakan coba-coba kesana ada seorang yang dianggap sakti dan memiliki ilmu yang tinggi.
Beliau berada di Cidayeuh/ Cikuya sekarang di sana ada orang yang
dianggap pemuka agama dan mempunyai banyak santri, beliau bernama “Syeh
Datuk Putih“.
Syeh Datuk Putih mengajarkan agama islam walaupun waktu itu hanya
sebagian kecil saja, sebab penduduk Desa Belawa waktu itu telah memeluk
suatu kepercayaan ke pohon yang besar, ke batu-batu dan sebagainya atau
penganut Animisme.
Sedikit demi sedikit Syeh datuk Putih berhasil menanamkan ajaran-ajaran Islam. Dengan mengucapkan Dua kalimat Syahadat.
Jaka Saliwah akhirnya atas keinginan sendiri dan nasihat orang tuanya ia
berangkat dari rumahnya diiringi dengan do’a kedua orang tuanya.
Jalan yang ditempuh tidaklah mudah tebing yang terjal dan mendakki tidaklah jadi penghalang Jaka Saliwah.
Walau kakinya sudah terlalu lelah badannya sudah terlalu payah, tapi
kalau dengan keteguhan hati , ia terus berjalan dan terus berjalan.
Akhirnya sampailah di tempat tujuan di Desa Belawa.
Langkah yang sudah lemah bersemangat kembali setelah kakinya mulai melangkah ke tempat di mana Syeh datuk Putih berada.
Senin, 28 Januari 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar