Rabu, 16 Januari 2019

[ Review ] Mitos Obyek Wisata Kura-Kura Belawa


Mitos di Wisata Desa Belawa
Banyak  orang datang mungkin ingin melihat kura-kura  belawa yang katanya hanya ada  satu-satunya di dunia dan berada di sini. Namu ternyata orang-orang datang karena penasaran dengan mitos yang terkenal disini yang tumbuh dari cerita rakyat setempat dan menimbulkan dongengan-dongengan yang turun temurun agar generasi penerus bisa memahami dan menghargai peninggalan sejarah. Dan cerita mitos ini 
salah satunya adalah legenda munculnya kura-kura yang ada di Desa Belawa.

         Pada dahulu kala ada seorang pemuda yang memiliki warna wajah yang tidak sama berna Jaka Saliwah, Jaka berarti Lelaki atau Pemuda sedangkan Saliwah berarti tidak sama (tidak satu warna). Orangtua pemuda ini sangat kebingungan dimana mereka dapat menyembuhkan anak mereka, Jaka tumbuh menjadi pemuda yang sangat pemalu dan tidak percaya diri dikarena wajahnya tidak berwarna sama dibandingkan anak-anak lainnya.
Mendengar ada orang yang bisa menyembuhkan
di Belawa atau Cikuya sekarang terdapat Padepokan. Jaka pun belajar ilmu agama dari seorang guru yang bernama Syekh Datuk Putih. Selama berbulan-bulan ia belajar ilmu agama islam dan menjadi santri yang rajin beribadah, Suatu hari ia merasa sangat frustasi dengan rupanya yang tak kunjung sembuh juga diliputi rasa marahdan perasaan kecewa ia dengan gelap mata merobek kertas- kertas ayat suci Al-Quran yang ada di dekatnya dan membuangnya pada kolam. Namu, keajaiban muncul saat potongan kertas itu di buang oleh jaka seketika menjadi sebuah kura-kura kecil muncul dari dalam kolam tersebut dengan rasa terkejut jaka melihat kedalam kolam dan pantulan dirinya terlihat bahwa wajahnya sudah yang mengatakan bahwa kisah mistis yang melekat pada kura-kura Belawa berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Cirebon yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi. Kala itu Syekh Datuk Kahfi menerima seorang santri bernama Jaka Saliwah yang wajahnya memiliki dua warna, hitam dan putih. Jaka Saliwah diperintah untuk berzikir di atas batu Pasujudan yang berada di samping Sumur Pamuyuran di Cikuya, yang saat ini menjadi objek wisata kura-kura Belawa.menunggu hal itu tiba, sama seperti kura-kura yang mencerminkan sifat yang serupa. Dengan kura-kura yang dikeramatkan, maka tak ada orang yang memperjual-belikan  apalagi memakannya.

Dilihat dari sisi mistis tersebut, menurut saya banyak warga yang mempercayai adanya kisah mitos tersebut sehingga warga setempatpun mengambil sisi positifnya dengan adanya kisah kura-kura di sini bisa terjaga hinga sekarang Dan saat ini kura-kura Belawa jumlahnya sekitar 400 ekor. Menurut Mitos yang beredar jika kita membawa keluar kura-kura tersebut maka kita akan celaka, saya mendengar dari penjaga obyek wisata ini beliau bercerita bahwa dahulu ada sekelompok orang  yang membawa keluar kura-kura ini tanpa perijinan dan kemudian ke esokan harinya mereka celaka.
tidak beda warna lagi dengan begini sekarang aja sudah sembuh.

 Awalnya mucul dari penyebaran agama hingga muncul kisah adanya kura-kura putih di sumur pamuruyan tersebut. Ada pula mitos lainnya yang katanya menceritakan hal yang berbeda, bahwa yang dibuang bukanlah kitab suci Al-Quran, melainkan kitab ilmu kanuragan berupa ilmu pamuruyann, pengasihan, dan pamulyaan yang mengajarkan segala kebaikan untuk dibagikan kepada seluruh umat manusia, habluminannas (hubungan sesame manusia), dan habluminallah (hubungan dengan Tuhan). Berubahnya kitab sebagai kura-kura dianggap sebagai sebuah simbol bahwa untuk mendapatkan suatu hal yang diinginkan, maka seseorang harus yakin dan sabar untuk berusaha dan banyak


0 komentar:

Posting Komentar