Mitos di Wisata Desa Belawa
Banyak orang datang mungkin ingin melihat kura-kura belawa yang katanya hanya ada satu-satunya di dunia dan berada di sini. Namu
ternyata orang-orang datang karena penasaran dengan mitos yang terkenal disini yang tumbuh dari cerita rakyat setempat dan menimbulkan
dongengan-dongengan yang turun temurun agar generasi penerus bisa memahami dan
menghargai peninggalan sejarah. Dan cerita mitos ini
salah satunya adalah legenda munculnya kura-kura yang ada di Desa
Belawa.
Pada dahulu kala
ada seorang pemuda yang memiliki warna wajah yang tidak sama berna Jaka Saliwah,
Jaka berarti Lelaki atau Pemuda sedangkan Saliwah berarti tidak sama (tidak
satu warna). Orangtua pemuda ini sangat kebingungan dimana mereka dapat
menyembuhkan anak mereka, Jaka tumbuh menjadi pemuda yang sangat pemalu dan
tidak percaya diri dikarena wajahnya tidak berwarna sama dibandingkan anak-anak
lainnya.
Mendengar ada orang yang bisa menyembuhkan di Belawa atau Cikuya sekarang terdapat Padepokan. Jaka pun belajar ilmu agama dari seorang guru yang bernama Syekh Datuk Putih. Selama berbulan-bulan ia belajar ilmu agama islam dan menjadi santri yang rajin beribadah, Suatu hari ia merasa sangat frustasi dengan rupanya yang tak kunjung sembuh juga diliputi rasa marahdan perasaan kecewa ia dengan gelap mata merobek kertas- kertas ayat suci Al-Quran yang ada di dekatnya dan membuangnya pada kolam. Namu, keajaiban muncul saat potongan kertas itu di buang oleh jaka seketika menjadi sebuah kura-kura kecil muncul dari dalam kolam tersebut dengan rasa terkejut jaka melihat kedalam kolam dan pantulan dirinya terlihat bahwa wajahnya sudah yang mengatakan bahwa kisah mistis yang melekat pada kura-kura Belawa berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Cirebon yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi. Kala itu Syekh Datuk Kahfi menerima seorang santri bernama Jaka Saliwah yang wajahnya memiliki dua warna, hitam dan putih. Jaka Saliwah diperintah untuk berzikir di atas batu Pasujudan yang berada di samping Sumur Pamuyuran di Cikuya, yang saat ini menjadi objek wisata kura-kura Belawa.menunggu hal itu tiba, sama seperti kura-kura yang mencerminkan sifat yang serupa. Dengan kura-kura yang dikeramatkan, maka tak ada orang yang memperjual-belikan apalagi memakannya.
Mendengar ada orang yang bisa menyembuhkan di Belawa atau Cikuya sekarang terdapat Padepokan. Jaka pun belajar ilmu agama dari seorang guru yang bernama Syekh Datuk Putih. Selama berbulan-bulan ia belajar ilmu agama islam dan menjadi santri yang rajin beribadah, Suatu hari ia merasa sangat frustasi dengan rupanya yang tak kunjung sembuh juga diliputi rasa marahdan perasaan kecewa ia dengan gelap mata merobek kertas- kertas ayat suci Al-Quran yang ada di dekatnya dan membuangnya pada kolam. Namu, keajaiban muncul saat potongan kertas itu di buang oleh jaka seketika menjadi sebuah kura-kura kecil muncul dari dalam kolam tersebut dengan rasa terkejut jaka melihat kedalam kolam dan pantulan dirinya terlihat bahwa wajahnya sudah yang mengatakan bahwa kisah mistis yang melekat pada kura-kura Belawa berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Cirebon yang dibawa oleh Syekh Datuk Kahfi. Kala itu Syekh Datuk Kahfi menerima seorang santri bernama Jaka Saliwah yang wajahnya memiliki dua warna, hitam dan putih. Jaka Saliwah diperintah untuk berzikir di atas batu Pasujudan yang berada di samping Sumur Pamuyuran di Cikuya, yang saat ini menjadi objek wisata kura-kura Belawa.menunggu hal itu tiba, sama seperti kura-kura yang mencerminkan sifat yang serupa. Dengan kura-kura yang dikeramatkan, maka tak ada orang yang memperjual-belikan apalagi memakannya.
Dilihat dari sisi mistis
tersebut, menurut saya banyak warga yang mempercayai adanya kisah mitos
tersebut sehingga warga setempatpun mengambil sisi positifnya dengan adanya
kisah kura-kura di sini bisa terjaga hinga sekarang Dan saat ini kura-kura
Belawa jumlahnya sekitar 400 ekor. Menurut Mitos yang
beredar jika kita membawa keluar kura-kura tersebut maka kita akan celaka, saya
mendengar dari penjaga obyek wisata ini beliau bercerita bahwa dahulu ada sekelompok
orang yang membawa keluar kura-kura ini
tanpa perijinan dan kemudian ke esokan harinya mereka celaka.
tidak beda warna lagi dengan
begini sekarang aja sudah sembuh.
Awalnya
mucul dari penyebaran agama hingga muncul kisah adanya kura-kura putih di sumur
pamuruyan tersebut. Ada pula mitos lainnya yang katanya menceritakan hal yang
berbeda, bahwa yang dibuang bukanlah kitab suci Al-Quran, melainkan kitab ilmu
kanuragan berupa ilmu pamuruyann, pengasihan, dan pamulyaan yang mengajarkan
segala kebaikan untuk dibagikan kepada seluruh umat manusia, habluminannas
(hubungan sesame manusia), dan habluminallah (hubungan dengan Tuhan). Berubahnya
kitab sebagai kura-kura dianggap sebagai sebuah simbol bahwa untuk mendapatkan
suatu hal yang diinginkan, maka seseorang harus yakin dan sabar untuk berusaha
dan banyak
0 komentar:
Posting Komentar